Gambar App
XSpace Radio
Dapatkan info lengkap disini

Hujan Es Di Jogjakarta Bisa Berulang

Wednesday, 3-3-2021 16:51 43

Gambar Konten

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan es yang terjadi di Yogyakarta disebabkan oleh pertumbuhan  awan Cumulonimbus (Cb).

Hal ini disampaikan Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Siswanto menanggapi hujan es yang terjadi di kawasan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Rabu (3/3) siang.

"Selalu (akibat) awan CB," tuturnya ketika menjelaskan penyebab terjadi huja es saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut, menurutnya pertumbuhan awan Cumulonimbus di Yogyakarta siang ini akibat dinamika cuaca akibat kuatnya pemanasan permukaan pada waktu sebelumnya.

Menurut Kepala Stasiun BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, hujan es ini bersifat lokal dengan radius 2 kilometer."Ditambah adanya jalur konvergensi (pertemuan) angin yang semakin menguatkan pertumbuhan sel awan Cb yang besar (sehingga) menurunkan hujan es di atas Yogya," ujarnya lagi.

"Hujan es ini sangat lokal yang disebabkan pertumbuhan awan cumulonimbus lebih dari 10 kilometer," tuturnya seperti dikutip Antara.

Proses terjadi hujan es

Menurut Rani hujan es terjadi akibat pertumbuhan awan cumulonimbus hingga puncak awan sangat tinggi. Puncak awan yang tinggi ini lantas menyentuh atmosfer hingga ke titik beku. Akibatnya, terbentuk kristal es di awan degan ukuran cukup besar.

Saat awan cumulonimbus sudah jenuh dan tak mampu lagi menahan beban uap air, maka akan terjadi hujan lebat disertai es.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarga menerima laporan hujan es terjadi di sejumlah wilayah DIY seperti Jogoyudan, Jetis, dan Kota Yogyakarta pada pukul 13:15 WIB."Es yang turun ini bergesekan dengan udara (atmosfer) saat jatuh (ke Bumi) sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukuranya mengecil," lanjutnya.

Masih potesi terjadi lagi

Siswanto menyebut kalau hujan es tidak hanya terjadi saat puncak musim hujan pada Januari dan Februari.

"Bisa juga masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, biasanya bisa terjadi juga dari Maret-Mei," tulisnya.

Senada Rani menyebut hujan es masih berpotensi terjadi lagi di Yogyakarga selama musim hujan, khususnya di masa pancaroba. (Yoy)

Sumber : CNN Indonesia

Berita lainnya